Kamis, 04 Desember 2014

Teknik Pengambilan pada sesi Potret di Studio

Bagian muka manusia dan semua mahluk hidup adalah berbeda antara sisi kiri dan sisi kanannya dengan patokan hidung sebagian garis batasnya.

Yang paling mudah dilihat adalah manusia, bahwa terdiri dari sisi maskulin dan feminin, baik pada pria maupun wanita.
Sebelum mengambil foto (foto portrait), pelajari lebih dahulu sisi wajah yang akan ditonjolkan dengan cara meminta model memalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan.
Teknik Koreksi terdiri dari:
1. Koreksi melalui Kamera (lensa)2. Koreksi melalui Subyek
A. Koreksi melalui kamera
Fungsinya adalah untuk memperindah bentuk tubuh model, contoh pada pemotretan studio, 1 badan:
* Eye level, dimana posisi kamera berada di tengah-tengah ketinggian POI dalam frame (berpatokan pada pinggul). Foto yang akan dihasilkan adalah ketinggian POI mendekati normal.* Low angle, dimana posisi kamera berada di bawah ketinggian POI, foto yang dihasilkan akan membuat POI seolah semakin tinggi, koreksi ini baik untuk POI yang berpostur pendek.* Hi-angle, dimana posisi kamera berada di atas garis batas pinggul. Foto yang dihasilkan akan membuat seolah POI semakin pendek.
Untuk menghindari distorsi (foto portrait) perspektif akibat sudut pengambilan low dan hi-angle, sebaiknya digunakan lensa yang minimal 2 x panjang frame film, jadi apabila sisi panjang frame film adalah 35mm (perbandingan panjang dan lebarnya sama dengan frame pada sudut bidik), maka lensa yang baik adalah 70 85mm. Lensa ini memperkecil distorsi perspektif.
B. Koreksi melalui subyek (POI)
Selain melalui kamera (lensa), koreksi sudut pengambilan juga bisa langsung kepada subyeknya, tapi peranan penting disini adalah filter dan cahaya.
Sebagai contoh pada pengambilan foto CU dan MCU
* POI bermuka bulat, berahang lebar atau berbadan gemuk. Gunakan short light dimana sisi muka/bagian badan yang menghadap ke kamera lebih gelap. Posisikan kamera di atas muka POI* POI bermuka tirus atau berbadan kurus. Gunakan broad light, dimana sisi muka/bagian badan yang menghadap kamera mendapatkan cahaya yang lebih banyak. Posisi kamera eye level POI* POI berkeriput, gunakan filter soft.

Rabu, 03 Desember 2014

Belajar Teknik memotret dengan gaya multiple exposure


bukan barang baru, bahkan sudah didalami sejak zaman film. Teknik ini biasa digunakan untuk dua atau lebih adegan gerak ataupun diam dalam sebuah frame. Tujuannya tidak lain supaya gambar terlihat lebih dramatis dan dinamis.

Nah, dalam beberapa hari belakangan, fotografer yang bertugas di Olimpiade London kerap menggunakan teknik tersebut. Ada yang berpendapat gambar yang dihasilkan menjadi lebih heroik namun ada yang menilai foto tersebut cukup membosankan.

Bagaimana sebenarnya membuat foto dengan multiple exposure ini?

Pertama, syarat mutlak adalah jenis kamera. Ternyata tidak semua kamera digital mempunyai fasilitas atau feature multiple exposure. Kalaupun tidak memiliki namun ingin mencobanya, berarti memerlukan olah digital lewat piranti lunak komputer. Yakni dengan menggabungkan beberapa layer/lapis yang ditumpuk menjadi satu frame.

Sebagai catatan, tulisan ini mengupas multiple exposure yang dibuat di internal kamera, bukan di komputer.

Kedua, pastikan kondisi cahaya menjamin suksesnya multiple exposure. Background foto harus lebih gelap dari subjek. Hal ini untuk menjaga speed dan diafragma terjaga saat merekam beberapa adegan.

Cahaya yang jatuh di subjek juga perlu konstan, tidak berubah-ubah. Kebutuhan ini untuk menjaga auto fokus tidak lari dan lightmeter terjaga.

Ketiga, tentukan berapa frame yang akan ditumpuk dalam satu frame. Biasanya kamera menyediakan fasilitas 2 hingga 10 frame. Banyak sedikitnya adegan yang terekam tergantung kreatifitas fotografer.

Keempat. Perhatikan baik-baik apa yang akan dibuat multiple exposure. Sesuaikan dengan kebutuhan foto karena tidak semua adegan bagus untuk dibuat multiple. Di sini, nalar dan sisi kreatif fotografer sangat berperan penting dalam membuat sebuah foto multiple.

Keempat. Karena tujuan multiple exposure membuat suatu adegan lebih hidup dan dramatis, tetap perhatikan bahasa tubuh dan ekpresi subjek yang hendak dijepret. Jangan sampai keduanya tertutup oleh banyaknya layer yang ditumpuk.

Kelima, latih kemampuan multiple secara terus menerus dan berulang-ulang. Latihan ini diperlukan karena multiple memerlukan teknik dan cita rasa yang cukup tinggi.

Teknik Dasar Fotografi Keren dengan Kamera DSLR

Berikut Teknik Dasar Fotografi Keren dengan Kamera DSLR, silahkan anda simak kemudian bisa anda pelajari tekhnik ini.


1. Teknik Depth of field (ruang tajam)

Hal-hal yang mempengaruhi teknik fotografi ruang tajam adalah:
Jarak pemotretan (jauh=luas, dekat=sempit)
Bukaan diafragma (kecil=luas, besar=sempit)
Jarak fokus lensa /focal length (tele=sempit, wide=luas, normal=bisa diatur)


2. Teknik Slow & Stop Action

Slow action : salah satu teknik fotografi yang bertujuan memperlihatkan/ menangkap gerakan objek. Biasanya digunakan kecepatan rendah, antara 1/30 sampai 1 detik . Stop action kebalikan dari slow, yaitu teknik fotografi untuk bertujuan membekukan gerak objek. Biasanya digunakan kecepatan tinggi, antara 1/125 sampai 1/4000 atau lebih.

3. Teknik Bulb

Kecepatan rana dapat diatur sesuai dengan waktu yang kita inginkan. Teknik ini dilakukan dengan menahan tombol pelepas rana dengan lebih lama. Untuk mendapatkan hasil foto bulb secara maksimal, dapat digunakan kabel release dan tripod. Misalnya, kita mempergunakan kecepatan 30 detik sampai habis waktu perekaman cahaya.

4. Teknik Panning

Panning adalah salah satu cara untuk memberikan kesan gerak pada foto. Ketika melakukan panning, anda harus mengikuti objek selama membidik. Hasil foto menjadikan objek menjadi relatif tajam dibandingkan dengan backgroundnya yang hampir sepenuhnya blur.Untuk mendapatkan foto panning secara maksimal; dengan speed rendah (8-60), dan pakailah tripod (kaki tiga).

Teknik Fotografi

1. Depth of field (ruang tajam)
  Hal-hal yang mempengaruhi teknik fotografi ruang tajam adalah:
- Jarak pemotretan (jauh=luas, dekat=sempit)
- Bukaan diafragma (kecil=luas, besar=sempit)
- Jarak fokus lensa /focal length (tele=sempit, wide=luas, normal=bisa diatur)
2. Panning
- Panning adalah salah satu cara untuk memberikan kesan gerak pada foto.
- Ketika melakukan panning, anda harus mengikuti objek selama membidik.
- Hasil foto menjadikan objek menjadi relatif tajam dibandingkan dengan backgroundnya yang hampir       sepenuhnya blur.
- Untuk mendapatkan foto panning secara maksimal; dengan speed rendah (8-60), dan pakailah tripod (kaki tiga)
3. Slow & stop action
- Slow action : salah satu teknik fotografi yang bertujuan memperlihatkan/menangkap gerakan objek. Biasanya digunakan kecepatan rendah, antara 1/30 sampai 1 detik
- Stop action : kebalikan dari slow, yaitu teknik fotografi untuk bertujuan membekukan gerak objek. Biasanya digunakan kecepatan tinggi, antara 1/125 sampai 1/4000 atau lebih.
4. Zooming
- Zooming adalah teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa.
- Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.
- Untuk mendapatkan kesan gerak, anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik.
- Untuk mendapatkan foto zooming secara maksimal, pakailah tripod (kaki tiga)
Data teknis:
- Kamera : Nikon D100 Digital
- Lensa : 28 – 80 Nikkor D
- Speed : 5 (with flash)
- Diafragma : 3.5
- ASA : 400
- White balance : flash
5. Bulb
- Kecepatan rana dapat diatur sesuai dengan waktu yang kita inginkan.
- Teknik ini dilakukan dengan menahan tombol pelepas rana dengan lebih lama.
- Untuk mendapatkan hasil foto bulb secara maksimal, dapat digunakan kabel release dan tripod.
- Misal, kita mempergunakan kecepatan 30 detik sampai habis waktu perekaman cahaya.

Selasa, 02 Desember 2014

Fotografi Human Interest

Manusia dengan segala aspek kehudupannya selalu saja menarik untuk dijadiakan objek pengambilan gambar. segi kemenarikan tidak hanya karena kemudahan menemukannya itu lebih sering dipicu oleh apa yang dilakukannya, yang terasa menyentuh. Baik itu aktivitas dalam suatu adat budaya suatu masyarakat tertentu maupun aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, yang sering terasa biasa bagi mata orang awam tetapi menarik bagi mata seorang pemotret.

Keadaan ataupun kondisi yang bisa dijadikan sebagai obyek foto Human Interest akan sangat beragam. Namun begitu, pada umumnya foto Human Interest menggunakan objek foto yang di dalamnya menyertakan keberadaan sosok manusia.

Hal tersebut merupakan keadaan yang lumrah, karena perasaan kemanusiaan seseorang akan lebih mudah tergugah ketika menyaksikan keadaan atau kondisi yang secara mudah memunculkan empati. Kita akan lebih mudah berempati pada kondisi-kondisi dimana sosok kita sebagai manusia ada di dalamnya.

Ada beberapa hal yang mungkin bisa dikakukan dalam teknik fotografi human interest, antara lain:

Survei dan tentukan lokasi (ini yang terpenting jangan sampai kita jalan tanpa tujuan).
Siapkan alat: bagi pengguna DSLR siapkan kamera tele 18-200mm atau 70-300mm dengan begitu kita dapat mengambil gambar natural dari jauh,,atau dapat menggunakan kamera saku dengan teknik candid.
Tentukan spot dan objek yang akan diambil.
Lakukan pengambilan gambar.
Untuk menambah kesan dramatis dapat selanjutnya melakukan sedikit olah digital.

TEKNIK DASAR FOTOGRAFI

Anda dapat mengabadikan gerak dengan menggunakan lampu kilat atau rana dengan kecepatan tinggi. Namun, efek bergerak bukan hanya muncul karena sebuah gambar tampil dengan tajam. Ada kalanya, gambar yang ingin Anda tampilkan harus tampil blur untuk memberikan kesan gerak. Teknik-teknik fotografi dasar ada beberapa macam, teknik-teknik tersebut akan menghasilkan gambar yang berbeda dan memiliki keunikan sendiri-sendiri. Teknik ini dibagi menjadi 2 bagian, berdasarkan kecepatan rana, yaitu High Speed (kecepatan tinggi) dan Slow Speed (kecepatan rendah).


High Speed (Kecepatan Tinggi) 
Pada teknik fotografi dengan rana di set dengan kecepatan tinggi, akan menghasilkan objek foto yang tajam, fokus (tidak berbayang / ghost effect) dikarenakan efek goyangan pada saat jari tangan menekan rana akan terkoreksi dengan kecepatan rana menangkap objek dengan kecepatan sangat tinggi. Pada umumnya rana (shutter speed) di set pada speed 1/125s - 1/8000s – dibaca – satu per 125 detik/ satu per 8000 detik. Ada dua macam teknik dasar foto yang bisa dikelompokkan kedalamHigh speed fotografi :
1. Freezing,
2. Siluet.


Freezing
Teknik fotografi freezing dalam penggunaannya dimaksudkan untuk membekukan benda bergerak, misalnya memotret orang yang sedang melompat di udara, atau memotret pesawat yang sedang terbang atau banyak sekali contoh teknik freezing yang bisa diterapkan, intinya menangkap gerakan (action) dari objek utama foto kita.
Kecepatan yang dipakai minimal adalah 1/125s dengan diafragma menyesuaikan keadaan cahaya di sekitar tempat memotret.


Slow Speed (Kecepatan Rendah) 
Pada teknik fotografi slow speed, akan menghasilkan objek foto yang berlawanan 180° dengan high speed fotografi dikarenakan efek goyangan yang timbul akibat jari tangan menekan rana akan sangat berpengaruh dengan hasil akhir foto. Kecepatan rana menangkap objek dengan kecepatan lambat akan mengakibatkan foto tidak fokus, bergetar (ghost effect). Pada umumnya rana (shutter speed) di set pada speed - 1/30s sd Bulb. – dibaca – satu per 30 detik. Ada beberapa macam teknik di dalam penggunaan kecepatan rendah antara lain: Blurring, Panning, Zooming, Bulb.


Zooming
Zooming merupakan teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa pada saat eksposure. Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom. Untuk mendapatkan kesan gerak, Anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik. Pada saat pemotretan, dalam waktu bersamaan dengan proses eksposure, titik fokus lensa diubah dengan menarik lensa zoom ke dalam atau ke arah luar (untuk jenis zoom yang ditarik) atau dengan cara menggeser titik fokus lensa ke kiri atau ke kanan. Sebaiknya, gunakan tripod untuk menopang kamera pada saat pemotretan. Tempatkan subjek utama pada bagian tengah foto. Pada bagian ini, ketajaman gambar relatif lebih baik dari bagian lain.

Minggu, 24 Agustus 2014

Evaluative



    Evaluative, terkadang disebut juga pattern, multi-segment atau matrix metering. Pembacaan matering ini bekerja dengan membagi scene menjadi banyak segmen yang berbeda-beda dan menganalisis pembacaan cahaya dari masing-masing segmen untuk mencapai exposure terbaik. Contoh kamera analog yang menggunakan reflective metering jenis ini, yaitu Nikon FA dan kamera-kamera analog yang memiliki shutter honeycomb
  • Pembacaan metering ini adalah reflective metering standard yang ada di hampir semua kamera analog yg sudah ada elektroniknya, sebelum Nikon membuat Center Weighted Metering, karena paling mudah untuk digunakan.
  • Reflective metering ini mempertimbangkan intensitas cahaya di beberapa titik dalamscene, dan kemudian menggabungkan hasilnya untuk exposure terbaik. 
  • Pada kamera analog pembacaan ini  terkait dengan titik fokus pada saat kita ingin mengambil gambar dari sebuah objek. Sehingga kamera nantinya akan membias metering menuju daerah di sekitar titik fokus. 
  • Evaluative metering sangat mampu dalam melakukan pembacaan, bahkan dapat memperhitungkan warna dan jarak objek. Akan tetapi terkadang salah melakukan pembacaan dalam kebanyakan situasi.  
  • Kamera analog dengan pembacaan ini sangat bagus untuk landscape dan portrait.  
Kapan harus menggunakan Evaluative/matrix metering?
       Evaluative/matrix metering baik digunakan jika sobat mendapatkan momen dimana cahaya terlalu mencolok sehingga sobat agak bingung dalam menggunakan light meter. Jenis reflective metering ini juga sangat baik digunakan jika sobat membutuhan pembacaan metering dan menangkap gambar dengan cepat, karena evaluative metering bekerja menggunakan zona-zona.
    Contoh kamera analog dengan evaluative metering ditemukan di:
    • Canon FT, FT QL, FTB, A-1, AT-1, AE-1 dll
    • Nikon FA, Nikon FM2 honeycomb, FM3A honey comb, F4, F5, F100 dan semua Nikon SLR AF
    • Leica R8